Minggu, 15 Agustus 2010

Anak Emosinya Stabil Jika Punya Kenangan Baik dengan Ayah

img
(Foto: thinkstock)

Ayah sering digambarkan sebagai sosok yang kaku, kurang bisa berkomunikasi dengan anak, otoriter dan tidak suka dibantah. Jarang sekali anak yang memiliki hubungan yang baik dengan si ayah ketika kecil.

Kesibukan ayah sebagai pencari nafkah kerap membuat anak jarang bertemu bapaknya kecuali hari libur. Belum lagi jika pulang kerja ayah lebih sering menampilkan wajah capek dan cemberut yang membuat anak-anak takut mendekat.

Para pakar psikologi menemukan hubungan ayah dan anak juga bisa mempengaruhi emosi anak saat dewasa. Selama ini penelitian lebih banyak fokus pada hubungan ibu dan anak.

Psikolog dari California State University-Fullerton, Profesor Melanie Mallers menemukan anak-anak yang punya hubungan baik dengan ayah akan memiliki emosi yang lebih stabil kala menghadapi stres saat dewasa.

Peneliti melakukan survei terhadap 921 pria dan wanita dewasa yang dilakukan melalui wawancara melalui telepon. Partisipan berusia mulai dari 25 tahun hingga 74 tahun yang difokuskan pada masalah psikologis dan emosi.

Contoh pertanyaannya seperti apakah partisipan mengalami depresi, gelisah atau sedih jika sedang stres dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi itu muncul bisa karena adu argumentasi, perselisihan, ketegangan dalam kerja, masalah keluarga hingga mengalami diskriminasi.

Partisipan juga ditanya tentang kualitas hubungan masa kecilnya dengan ayah dan ibu. Pertanyaan yang diajukan seperti bagaimana partisipan menilai hubungannya dengan ayah dan ibu selama bertahun-tahun. Berapa banyak waktu dan perhatian yang didapatkan saat partisipan sedang membutuhkannya.

Hasilnya ditemukan partisipan cenderung memiliki masa kecil yang baik dengan ibu ketimbang ayah. Hubungan dengan ibu juga jarang mengalami tekanan psikologis. Sementara hubungan dengan ayahnya hambar.

"Hasil ini memang tidak mengejutkan karena penelitian masa lalu telah menunjukkan ibu memang yang berperan dalam perawatan anak dan selalu bisa memberikan kenyamanan," kata Profesor Mallers yang telah mempresentasikan penemuannya dalam the 118th Annual Convention of the American Psychological Association di San Diego.

Ayah memang memiliki gaya yang unik dalam berinteraksi dengan anak-anaknya. Namun psikolog memandang ayah jangan terlalu cuek dengan anaknya karena dampaknya bisa pada emosi anak saat dewasa.

Irna Gustia - detikHealth

Label: , , , , , ,

Anak Emosinya Stabil Jika Punya Kenangan Baik dengan Ayah

img
(Foto: thinkstock)

Ayah sering digambarkan sebagai sosok yang kaku, kurang bisa berkomunikasi dengan anak, otoriter dan tidak suka dibantah. Jarang sekali anak yang memiliki hubungan yang baik dengan si ayah ketika kecil.

Kesibukan ayah sebagai pencari nafkah kerap membuat anak jarang bertemu bapaknya kecuali hari libur. Belum lagi jika pulang kerja ayah lebih sering menampilkan wajah capek dan cemberut yang membuat anak-anak takut mendekat.

Para pakar psikologi menemukan hubungan ayah dan anak juga bisa mempengaruhi emosi anak saat dewasa. Selama ini penelitian lebih banyak fokus pada hubungan ibu dan anak.

Psikolog dari California State University-Fullerton, Profesor Melanie Mallers menemukan anak-anak yang punya hubungan baik dengan ayah akan memiliki emosi yang lebih stabil kala menghadapi stres saat dewasa.

Peneliti melakukan survei terhadap 921 pria dan wanita dewasa yang dilakukan melalui wawancara melalui telepon. Partisipan berusia mulai dari 25 tahun hingga 74 tahun yang difokuskan pada masalah psikologis dan emosi.

Contoh pertanyaannya seperti apakah partisipan mengalami depresi, gelisah atau sedih jika sedang stres dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi itu muncul bisa karena adu argumentasi, perselisihan, ketegangan dalam kerja, masalah keluarga hingga mengalami diskriminasi.

Partisipan juga ditanya tentang kualitas hubungan masa kecilnya dengan ayah dan ibu. Pertanyaan yang diajukan seperti bagaimana partisipan menilai hubungannya dengan ayah dan ibu selama bertahun-tahun. Berapa banyak waktu dan perhatian yang didapatkan saat partisipan sedang membutuhkannya.

Hasilnya ditemukan partisipan cenderung memiliki masa kecil yang baik dengan ibu ketimbang ayah. Hubungan dengan ibu juga jarang mengalami tekanan psikologis. Sementara hubungan dengan ayahnya hambar.

"Hasil ini memang tidak mengejutkan karena penelitian masa lalu telah menunjukkan ibu memang yang berperan dalam perawatan anak dan selalu bisa memberikan kenyamanan," kata Profesor Mallers yang telah mempresentasikan penemuannya dalam the 118th Annual Convention of the American Psychological Association di San Diego.

Ayah memang memiliki gaya yang unik dalam berinteraksi dengan anak-anaknya. Namun psikolog memandang ayah jangan terlalu cuek dengan anaknya karena dampaknya bisa pada emosi anak saat dewasa.

Irna Gustia - detikHealth

Label: , , , , , ,

Jumat, 13 Agustus 2010

Bocah 3 Tahun Sudah Kena Raja Singa

img
Ilustrasi (Foto: glogster)

Sifilis atau juga dikenal dengan raja singa, biasanya menular melalui hubungan seksual yang tak sehat atau hubungan sesama jenis (homoseksual). Tapi baru-baru ini ditemukan kasus mengejutkan, bocah usia tiga tahun divonis dengan sifilis.

Petugas medis dikejutkan dengan menemukan seorang anak kecil asal Glasgow, Skotlandia yang menderita sifilis setelah melihat luka yang ada ditubuhnya.

Seperti diketahui, sifilis hanya dapat menular melalui kontak seksual dengan penderita sifilis atau secara kongenital, yaitu bayi yang menderita sifilis sejak lahir karena tertular dari ibu dengan sifilis.

Tapi dilansir dari dari TheSun, Jumat (13/8/2010), pada kasus bocah tiga tahun yang tak disebutkan namanya ini, bukanlah kasus sifilis kongenital. Karena terjadinya jauh setelah dilahirkan yakni saat berusia 3 tahun.

Sampai sekarang, polisi dan pekerja sosial masih menyelidiki kasus ini. Saudara laki-laki dan perempuannya pun kini tengah berada dalam pengawasan pihak berwajib.

"Sifilis adalah penyakit yang sangat langka dan kasus anak usia tiga tahun belum pernah terjadi sebelumnya. Mencari tahu bagaimana gadis cilik ini mendapatkannya adalah sangat penting," ujar ahli medis yang ditunjuk kepolisian.

Menurut ahli medis, beberapa lembaga perlindungan sekarang sedang terlibat untuk mencari tahu bagaimana gadis cilik tersebut tertular penyakit menular seksual mematikan itu.

"Orang yang menularkan penyakit itu bisa jadi tidak menyadari bahwa ia menderitanya. Bila penyakit ini dibiarkan dan tidak diobati 10 hingga 20 tahun, maka dapat menyebabkan kelumpuhan, demensia (pikun) dan akhirnya kematian," jelas Carol Cooper, dokter dari The Sun.

Menurut Cooper, sebenarnya sifilis bisa disembuhkan dengan antibiotik bila masih pada tahap awal. Namun, bagi anak kecil usia tiga tahun hal tersebut sangat meresahkan.

"Ini adalah kasus yang tragis. Sulit memahami bagaimana sesuatu yang mengerikan dan tragis ini bisa dialami oleh gadis sekecil itu. Saya berharap gadis cilik itu bisa mendapat perawatan medis yang terbaik dan pihak berwajib dapat segera menyelidiki kasusnya," tutur Tory, juru bicara dari Murdo Fraser, Parlemen di Skotlandia.

Sifilis adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh Treponema pallidum bersifat kronis dan menahun. Bakteri ini masuk ke dalam tubuh manusia melalui selaput lendir (misalnya di vagina atau mulut) atau melalui kulit.

Rute penularan yang paling umum adalah melalui kontak dengan orang yang terinfeksi sakit selama melakukan aktivitas seksual. Bakteri memasuki tubuh melalui luka kecil atau lecet di kulit atau selaput lendir.

Pada kondisi yang jarang terjadi, sifilis dapat menyebar melalui transfusi darah yang terinfeksi, melalui hubungan langsung kontak dekat dengan lesi aktif (seperti selama berciuman), atau melalui ibu yang terinfeksi kepada bayinya selama kehamilan atau persalinan (kongenital sifilis).

Orang yang rentan terkena sifilis:
  1. Terlibat dalam aktivitas seksual berisiko tinggi, termasuk hubungan seks tanpa kondom, hubungan seks dengan banyak pasangan, berhubungan seks dengan pasangan baru, atau berhubungan seks di bawah pengaruh obat atau alkohol
  2. Seorang pria yang berhubungan seks dengan pria (homoseksual)
  3. Orang yang terinfeksi human immunodeficiency virus (HIV)
Merry Wahyuningsih - detikHealth

Label: , , ,

Bocah 3 Tahun Sudah Kena Raja Singa

img
Ilustrasi (Foto: glogster)

Sifilis atau juga dikenal dengan raja singa, biasanya menular melalui hubungan seksual yang tak sehat atau hubungan sesama jenis (homoseksual). Tapi baru-baru ini ditemukan kasus mengejutkan, bocah usia tiga tahun divonis dengan sifilis.

Petugas medis dikejutkan dengan menemukan seorang anak kecil asal Glasgow, Skotlandia yang menderita sifilis setelah melihat luka yang ada ditubuhnya.

Seperti diketahui, sifilis hanya dapat menular melalui kontak seksual dengan penderita sifilis atau secara kongenital, yaitu bayi yang menderita sifilis sejak lahir karena tertular dari ibu dengan sifilis.

Tapi dilansir dari dari TheSun, Jumat (13/8/2010), pada kasus bocah tiga tahun yang tak disebutkan namanya ini, bukanlah kasus sifilis kongenital. Karena terjadinya jauh setelah dilahirkan yakni saat berusia 3 tahun.

Sampai sekarang, polisi dan pekerja sosial masih menyelidiki kasus ini. Saudara laki-laki dan perempuannya pun kini tengah berada dalam pengawasan pihak berwajib.

"Sifilis adalah penyakit yang sangat langka dan kasus anak usia tiga tahun belum pernah terjadi sebelumnya. Mencari tahu bagaimana gadis cilik ini mendapatkannya adalah sangat penting," ujar ahli medis yang ditunjuk kepolisian.

Menurut ahli medis, beberapa lembaga perlindungan sekarang sedang terlibat untuk mencari tahu bagaimana gadis cilik tersebut tertular penyakit menular seksual mematikan itu.

"Orang yang menularkan penyakit itu bisa jadi tidak menyadari bahwa ia menderitanya. Bila penyakit ini dibiarkan dan tidak diobati 10 hingga 20 tahun, maka dapat menyebabkan kelumpuhan, demensia (pikun) dan akhirnya kematian," jelas Carol Cooper, dokter dari The Sun.

Menurut Cooper, sebenarnya sifilis bisa disembuhkan dengan antibiotik bila masih pada tahap awal. Namun, bagi anak kecil usia tiga tahun hal tersebut sangat meresahkan.

"Ini adalah kasus yang tragis. Sulit memahami bagaimana sesuatu yang mengerikan dan tragis ini bisa dialami oleh gadis sekecil itu. Saya berharap gadis cilik itu bisa mendapat perawatan medis yang terbaik dan pihak berwajib dapat segera menyelidiki kasusnya," tutur Tory, juru bicara dari Murdo Fraser, Parlemen di Skotlandia.

Sifilis adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh Treponema pallidum bersifat kronis dan menahun. Bakteri ini masuk ke dalam tubuh manusia melalui selaput lendir (misalnya di vagina atau mulut) atau melalui kulit.

Rute penularan yang paling umum adalah melalui kontak dengan orang yang terinfeksi sakit selama melakukan aktivitas seksual. Bakteri memasuki tubuh melalui luka kecil atau lecet di kulit atau selaput lendir.

Pada kondisi yang jarang terjadi, sifilis dapat menyebar melalui transfusi darah yang terinfeksi, melalui hubungan langsung kontak dekat dengan lesi aktif (seperti selama berciuman), atau melalui ibu yang terinfeksi kepada bayinya selama kehamilan atau persalinan (kongenital sifilis).

Orang yang rentan terkena sifilis:
  1. Terlibat dalam aktivitas seksual berisiko tinggi, termasuk hubungan seks tanpa kondom, hubungan seks dengan banyak pasangan, berhubungan seks dengan pasangan baru, atau berhubungan seks di bawah pengaruh obat atau alkohol
  2. Seorang pria yang berhubungan seks dengan pria (homoseksual)
  3. Orang yang terinfeksi human immunodeficiency virus (HIV)
Merry Wahyuningsih - detikHealth

Label: , , ,

Kamis, 12 Agustus 2010

Benarkah Mata Berkedip Tanda Anak Cacingan?

img
ilustrasi (Foto: eyecareforkids)

Kondisi mata yang sering berkedip jarang menimbulkan masalah serius dan sebagian besar bisa sembuh tanpa memerlukan perawatan. Tapi apa artinya jika mata anak sering berkedip? Benarkah mata berkedip pertanda cacingan?

Usut punya usut ternyata mata berkedip tidak ada hubungannya dengan cacingan. Malahan gejala cacingan jarang menimbulkan gejala. Namun jika muncul gejalanya yang terlihat seperti seperti nafsu makan berkurang, mual, diare atau sulit buang air besar (konstipasi), penurunan berat badan dan juga menurunkan kecerdasan anak.

Mata berkedip menurut Profesor Alan Hedge dari Cornell University states adalah satu refleks mata yang normal terjadi. Profesor Alan menuturkan bahwa rata-rata manusia mengedipkan matanya 12 kali per menit atau setara dengan 17.000 kali sehari.

Tapi beberapa anak ada yang seringkali mengedipkan matanya seakan-akan berkedip 17.000 kali per menit.

Berdasarkan penelitian tahun 2001 yang dilaoprkan oleh penulis utama David Coast dari Baylor College of Medicine di jurnal Ophthamology menuturkan bahwa sebagian besar anak yang sering berkedip termasuk ke dalam kategori yang tidak berbahaya dan bisa membatasi dirinya sendiri.

Penyebab mata anak sering berkedip Seperti dikutip dari Livestrong, Kamis (12/8/2010) adalah:
  1. Mata kering, karena berkedip merupakan salah satu mekanisme untuk rehydrate mata.
  2. Anak memiliki masalah penglihatan seperti convergence insufficiency, yaitu masalah dalam hal memfokuskan kedua matanya terhadap objek yang dekat. Atau masalah penglihatan yang kabur juga membuat seseorang berkedip lebih sering.
  3. Adanya masalah pada kelopak mata atau bagian mata yang terdiri dari kornea, iris, ruang anterior dan lensa.
  4. Memiliki gangguan sindrom Tourette, salah satu gejala dari sindrom ini adalah anak sering melakukan 'tics' yang bisa berupa mata berkedip.
  5. Adanya gangguan gerakan yang disebut dengan dystonia.
  6. Adanya gangguan saraf atau neurologis.
  7. Mata sering berkedip juga bisa menjadi bagian dari epilepsi.
  8. Adanya reaksi alergi yang membuat mata menjadi lebih sering berkedip.

Mata yang sering berkedip ini lebih banyak terjadi pada anak laki-laki daripada anak perempuan dengan perbandingan 2:1. Selain itu untuk mendiagnosisnya diperlukan riwayat kesehatan dari anak dan juga pemeriksaan klinis. Karena itu perawatan yang diberikan untuk mengatasi kondisi ini juga tergantung dari penyebabnya.

Pada umumnya kondisi mata yang sering berkedip jarang menimbulkan masalah serius dan sebagian besar bisa sembuh tanpa memerlukan perawatan. Tapi jika kondisi ini disebabkan oleh epilepsi atau dystonia, maka diperlukan penanganan lebih lanjut karena salah satu jenis dystonia yaitu blefarospasme bisa membuat kelopak mata benar-benar tertutup yang menyebabkan kebutaan fungsional.

Vera Farah Bararah - detikHealth

Label: , ,

Selasa, 10 Agustus 2010

Anak Perempuan Sekarang Sudah Puber di Usia 7-8 Tahun

img
Ilustrasi (Foto: thinkstock)

Studi terbaru menemukan anak perempuan sekarang lebih cepat payudaranya tumbuh di usia 7 atau 8 tahun ketimbang orang zaman dulu. Hal ini membawa keprihatinan mengenai masa pubertas anak yang terlalu dini.

Perdebatan tentang masalah ini sebenarnya sudah dimulai dengan sebuah penelitian yang diterbitkan pada tahun 1997 oleh tim peneliti yang dipimpin oleh Dr Marcia E. Herman-Giddens, seorang peneliti di University of North Carolina, Chapel Hill.

Dalam studi tersebut, dokter anak di seluruh negeri diminta untuk menilai kematangan seksual pada 17.077 gadis usia 3-12 tahun. Studi ini menemukan bahwa payudara atau rambut di kemaluan atau keduanya, jauh lebih sering terjadi pada 7-8 tahun.

Secara normal seharusnya anak perempuan baru mengalami menstruasi untuk pertama kali saat usia antara 12-13 tahun.

Cepatnya masa puber anak perempuan saat ini diduga karena terkait obesitas yang memainkan peran penting, karena lemak tubuh dapat menghasilkan hormon seks. Beberapa peneliti juga menduga bahwa bahan kimia lingkungan yang menyerupai efek estrogen dapat mempercepat masa pubertas.

Masalah ini menjadi perhatian karena alasan medis dan psikososial. Studi menunjukkan bahwa pubertas awal, yang diukur dengan usia pada menstruasi pertama (menarche), dapat meningkatkan risiko kanker payudara. Hal ini disebabkan karena tingkat hormon estrogen dan progesteron dapat memicu beberapa tumor yang bisa menjadi ganas.

Meskipun studi baru ini tidak memandang usia menstruasi, pertumbuhan payudara juga merupakan tanda eksposur hormon. Beberapa peneliti takut bahwa perkembangan payudara awal ini juga mungkin berarti sebuah peningkatan risiko kanker.

Selain itu, secara sosial dan emosional, sangat sulit bagi seorang gadis yang hidup dengan pikiran bocah tetapi sudah tumbuh menjadi tubuh seorang wanita. Ia juga belum siap berurusan dengan ketertarikan lawan jenis atau mengatasi perubahan emosi dan dorongan seksual dalam tubuhnya.

"Ini adalah bendera peringatan. Saya pikir orangtua harus waspada dengan hal-hal yang dapat mengekspos tubuh anak-anak kita," kata Dr Frank M. Biro, penulis pertama studi dan direktur kedokteran remaja di Cincinnati Children's Hospital Medical Center, seperti dilansir dari NYTimes, Senin (9/8/2010).

Dr Catherine Gordon, pediatrik endokrinologi dan spesialis kedokteran remaja di Children's Hospital Boston, mengatakan bahwa sejauh ini sebagian besar bukti menunjukkan bahwa baik perkembangan payudara atau umur menstruasi telah berubah terkait dengan banyaknya obesitas pada anak.
Merry Wahyuningsih - detikHealth

Label: , , ,

Senin, 09 Agustus 2010

Penyebab Anak Takut Badut

img
ilustrasi (Foto: thinkstock)

Badut adalah sosok yang lucu, menggemaskan dan menghibur. Tapi hal ini berbeda jika yang melihat badut adalah anak-anak. Sebagian besar anak kecil tidak suka atau takut dengan badut. Apa penyebabnya?

Peneliti di University of Sheffield menemukan bahwa badut secara universal tidak disukai oleh anak-anak, terutama ketika hiasan badut ini menjadi dekorasi dari rumah sakit.

Studi ini dilaporkan dalam Nursing Standard Magazine dengan melibatkan jajak pendapat dari 250 anak berusia 4-16 tahun. Dalam jajak pendapat tersebut didapatkan bahwa sebagian besar anak-anak tidak menyukai badut, bahkan beberapa anak yang lebih tua juga ada yang tidak menyukai badut.

Dikutip dari Digitaljournal.com, Senin (9/8/2010) ada banyak asumsi yang melatarbelakangi anak-anak takut dengan badut.

Salah satunya adalah sebagian besar media menggambarkan badut sebagai sosok kejahatan dalam berbagai film. Hal ini tentu saja membuat anak-anak menjadi berpikir bahwa badut adalah seseorang yang jahat, sehingga tak heran banyak yang takut dengan badut.

Meski karakter menakutkan dalam film atau televisi biasanya menggunakan topeng atau ekspresi wajah yang berlebihan, namun ini menunjukkan adanya beberapa persamaan dengan fitur badut yang dilihat oleh anak-anak.

Selain itu sebagian analis dan psikolog percaya bahwa hal yang membuat anak-anak takut dengan badut adalah lukisan atau riasan di wajah orang tersebut yang berlebihan.

Agar ketakutan ini tidak berlanjut hingga dewasa dan membuat anak menjadi Coulrophobia (fobia badut), maka orangtua bisa mulai perlahan-lahan memperkenalkan badut pada anak sebagai sosok yang lucu dan bukan menakutkan.

Tapi bukan dengan cara memaksa anak untuk mau berani dengan badut atau memaksa anak untuk berfoto dengan badut saat anak belum berani.

Buatlah anak berani dengan memberinya penjelasan bahwa badut adalah seorang manusia juga yang wajahnya diberi topeng atau riasan tertentu, orang ini tidak akan menyakiti anak-anak tapi justru akan menghibur.

Lalu tak ada salahnya untuk memberikan pujian pada anak jika ia sudah menunjukkan keberaniannya saat mau berdekatan dengan badut.
Vera Farah Bararah - detikHealth

Label: , ,

Minggu, 08 Agustus 2010

Agar Anak Doyan Makan Sayur

img
Ilustrasi (dok: thinkstock)

Sayuran mengandung banyak nutrisi penting, tetapi mengapa kebanyakan anak-anak tidak menyukainya? Dibutuhkan strategi yang tepat agar anak gemar dan terbiasa makan sayur, salah satunya dengan memperkenalkan Popeye sebagai tokoh idola.

Popeye sang pelaut merupakan tokoh kartun yang sudah populer sejak era 1930-an. Kemunculannya sering dikaitkan dengan propaganda makan sayur di kalangan anak-anak pada masa itu, sebab tokoh tersebut digambarkan senang makan bayam yang membuatnya menjadi sangat kuat hanya dalam sekejap.

Seorang peneliti dari Mahidol University di Bangkok membuktikan, propaganda dengan memanfaatkan multimedia semacam itu sangat efektif dalam meningkatkan konsumsi sayuran pada anak. Dalam sebuah eksperimen yang berlangsung selama 8 pekan, ia memutarkan serial Popeye di sela-sela jam makan siang para murid TK.

Akibat terpengaruh oleh perilaku tokoh idola, asupan sayur dan buah pada anak meningkat 2 kali lipat setelah mengikuti program tersebut. Selain itu para orang tua juga melaporkan bahwa murid-murid TK merasa bangga telah mengkonsumsi sayur saat makan siang di sekolah.

Prof Chutima Sirikulchayanonta yang memimpin penelitian tersebut mengakui, pemutaran film kartun memang bukan satu-satunya faktor yang menentukan. Sebab dalam eksperimen tersebut, ia memasukkan berbagai program interaktif seperti:
  1. Mengajak para murid menanam sayur bersama
  2. Mengadakan pesta kebun dengan menu sayur dan buah-buahan
  3. Tutorial memasak sup bagi para murid.
Sementara bagi para orang tua di rumah, Prof Chutima memberi catatan tentang beberapa hal yang bisa membuat anak makin gemar makan sayur. Dikutip dari Sciencedaily, Minggu (8/8/2010), beberapa catatan tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Duduk di samping anak yang sedang makan sayur lalu ikut menyantap menu yang sama akan membuat anak merasa spesial
  2. Mencicipi bermacam-macam rasa buah dan sayuran adalah cara yang menyenangkan bagi anak untuk mengenal berbagai jenis makanan
  3. Melibatkan anak dalam tahap-tahap menyiapkan makanan, mulai dari emncuci dan memotong sayuran, hingga meracik bumbu akan menumbuhkan rasa menghargai makanan pada anak.
AN Uyung Pramudiarja - detikHealth

Label: , , ,

Jumat, 16 Juli 2010

Kenali Gejala Buta Warna Pada Anak



img
(Foto: geneticpeople)

Buta warna merupakan salah satu gangguan yang diturunkan dari gen orangtua ke anak. Tapi seringkali orangtua tidak menyadari gangguan yang terjadi pada anaknya. Gejala apa saja yang dialami si kecil jika memiliki gangguan buta warna?

Kondisi buta warna terjadi ketika ada masalah dengan sensor pigmen warna yang terdapat di dalam sel-sel saraf tertentu di mata, sel-sel ini disebut dengan cones. Sel ini terdapat di dalam retina yang merupakan lapisan jaringan yang peka terhadap cahaya dan berada di balik inner eye.

Seperti dikutip dari nlm.nih.gov, Jumat (16/7/2010) jika hanya kehilangan satu pigmen, maka ada kemungkianan si kecil hanya sulit membedakan antara warna merah dan hijau. Kondisi ini merupakan jenis buta warna yang paling umum ditemukan. Sementara itu ada juga yang sulit membedakan antara warna biru dan kuning.

Pada umumnya anak sudah bisa membedakan warna pada usia 18 bulan, tapi sebagian besar anak mulai bisa membedakan antara satu warna dan lainnya dengan lebih baik saat berusia 36 bulan.

Sebagian besar orangtua akan menaruh kecurigaan pada anaknya saat sulit mengajarkan tentang warna-warna dasar padanya, dan 99 persen orang yang buta warna mengalami kelemahan pada warna merah atau hijau. Hal ini akan membuat seseorang sulit membedakan berbagai warna yang mengandung merah atau hijau. Misalnya kelemahan warna merah akan sulit membedakan warna violet, ungu dan biru.

Beberapa gejala yang muncul dari tiap orang bervariasi, tanda-tandanya bisa berupa:

  1. Memiliki kesulitan atau masalah saat melihat warna dan kecerahan dari warna, walaupun sebenarnya warna tersebut biasa saja.
  2. Ketidakmampuan membedakan antara beberapa warna yang mirip.
  3. Kesulitan untuk mengingat suatu warna.

Namun tidak semua anak yang mengalami kesulitan membedakan warna adalah buta warna. Sebaiknya orangtua mulai melakukan tes dengan menggunakan serangkaian kartu dengan titik-titik warna dan bentuk yang tersembunyi. Dalam hal ini orangtua bisa mengetahui seberapa cepat si kecil dapat mengenali warna.

Untuk memeriksa buta warna kelemahan merah, maka mintalah anak untuk memilih krayon berwarna merah dari urutan krayon berwarna oranye, kuning dan juga hijau.

Sedangkan untuk memeriksa buta warna kelemahan hijau, maka mintalah anak untuk memilih krayon berwarna hijau dari urutan krayon berwarna putih, coklat dan abu-abu. Jika anak mengalami kesulitan membedakan warna tersebut, periksalah lebih lanjut ke dokter untuk mendapatkan diagnosis yang tepat.

dr. Teguh Haryo Sasongko, PhD dalam konsultasi detikHealth menuturkan buta warna parsial (biasanya buta warna pada spektrum merah dan hijau) adalah kelainan genetik yang terkait dengan salah satu kromosom sex, yaitu kromosom X. Kerusakan pada 2 gen bertanggung jawab pada buta warna parsial ini, yaitu OPN1LW (yang mengkode pigmen merah) dan OPN1MW (yang mengkode pigmen hijau).

Vera Farah Bararah - detikHealth

Label: , , , , ,

Rabu, 07 Juli 2010

Kak Seto: Minimnya Lagu Anak-anak Harus Cepat Diatasi


AT Mahmud (dok.kroscek)


Meninggalnya pencipta lagu anak AT Mahmud mengingatkan betapa minimnya lagu anak-anak sekarang. Anak-anak sekarang lebih hafal lagu orang dewasa daripada lagu anak. Masalah ini harus segera diatasi.

Ketua Komnas Perlindungan Anak sekaligus pemerhati anak, Seto Mulyadi atau Kak Seto gelisah dengan minimnya lagu anak. Ia sempat memperbincangkan kegelisahan tersebut dengan AT Mahmud sebelum maestro pencipta lagu anak itu meninggal.

"Harus cepat diatasi," kata Kak Seto saat dihubungi detikhot via ponselnya, Rabu (7/7/2010). Kak Seto juga mempunyai kegelisahan yang sama seperti yang dirasakan almarhum AT Mahmud.

Rencananya Kak Seto akan membuat penyuluhan untuk mengurangi dampak dari anak-anak menyanyikan lagu orang dewasa."Ya segera ada. Saya akan berikan penyuluhan. Mudah-mudahan kita bisa bersinergi dengan lagu anak-anak," jelas Kak Seto.

Pria berkacamata ini pun mengimbau media agar ikut bertanggung jawab dengan ikut gencar memberitakan lagu anak-anak. Bila media massa banyak memberitakan lagu dewasa maka informasi yang diperoleh anak-anak pun lebih banyak tentang lagu dewasa.

"Karena dari media massa, anak-anak mencari informasi tentang lagu itu," ujar Kak Seto.


Fakhmi Kurniawan - hotMusic

Label: , , , ,