Minggu, 15 Agustus 2010

Anak Emosinya Stabil Jika Punya Kenangan Baik dengan Ayah

img
(Foto: thinkstock)

Ayah sering digambarkan sebagai sosok yang kaku, kurang bisa berkomunikasi dengan anak, otoriter dan tidak suka dibantah. Jarang sekali anak yang memiliki hubungan yang baik dengan si ayah ketika kecil.

Kesibukan ayah sebagai pencari nafkah kerap membuat anak jarang bertemu bapaknya kecuali hari libur. Belum lagi jika pulang kerja ayah lebih sering menampilkan wajah capek dan cemberut yang membuat anak-anak takut mendekat.

Para pakar psikologi menemukan hubungan ayah dan anak juga bisa mempengaruhi emosi anak saat dewasa. Selama ini penelitian lebih banyak fokus pada hubungan ibu dan anak.

Psikolog dari California State University-Fullerton, Profesor Melanie Mallers menemukan anak-anak yang punya hubungan baik dengan ayah akan memiliki emosi yang lebih stabil kala menghadapi stres saat dewasa.

Peneliti melakukan survei terhadap 921 pria dan wanita dewasa yang dilakukan melalui wawancara melalui telepon. Partisipan berusia mulai dari 25 tahun hingga 74 tahun yang difokuskan pada masalah psikologis dan emosi.

Contoh pertanyaannya seperti apakah partisipan mengalami depresi, gelisah atau sedih jika sedang stres dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi itu muncul bisa karena adu argumentasi, perselisihan, ketegangan dalam kerja, masalah keluarga hingga mengalami diskriminasi.

Partisipan juga ditanya tentang kualitas hubungan masa kecilnya dengan ayah dan ibu. Pertanyaan yang diajukan seperti bagaimana partisipan menilai hubungannya dengan ayah dan ibu selama bertahun-tahun. Berapa banyak waktu dan perhatian yang didapatkan saat partisipan sedang membutuhkannya.

Hasilnya ditemukan partisipan cenderung memiliki masa kecil yang baik dengan ibu ketimbang ayah. Hubungan dengan ibu juga jarang mengalami tekanan psikologis. Sementara hubungan dengan ayahnya hambar.

"Hasil ini memang tidak mengejutkan karena penelitian masa lalu telah menunjukkan ibu memang yang berperan dalam perawatan anak dan selalu bisa memberikan kenyamanan," kata Profesor Mallers yang telah mempresentasikan penemuannya dalam the 118th Annual Convention of the American Psychological Association di San Diego.

Ayah memang memiliki gaya yang unik dalam berinteraksi dengan anak-anaknya. Namun psikolog memandang ayah jangan terlalu cuek dengan anaknya karena dampaknya bisa pada emosi anak saat dewasa.

Irna Gustia - detikHealth

Label: , , , , , ,

Anak Emosinya Stabil Jika Punya Kenangan Baik dengan Ayah

img
(Foto: thinkstock)

Ayah sering digambarkan sebagai sosok yang kaku, kurang bisa berkomunikasi dengan anak, otoriter dan tidak suka dibantah. Jarang sekali anak yang memiliki hubungan yang baik dengan si ayah ketika kecil.

Kesibukan ayah sebagai pencari nafkah kerap membuat anak jarang bertemu bapaknya kecuali hari libur. Belum lagi jika pulang kerja ayah lebih sering menampilkan wajah capek dan cemberut yang membuat anak-anak takut mendekat.

Para pakar psikologi menemukan hubungan ayah dan anak juga bisa mempengaruhi emosi anak saat dewasa. Selama ini penelitian lebih banyak fokus pada hubungan ibu dan anak.

Psikolog dari California State University-Fullerton, Profesor Melanie Mallers menemukan anak-anak yang punya hubungan baik dengan ayah akan memiliki emosi yang lebih stabil kala menghadapi stres saat dewasa.

Peneliti melakukan survei terhadap 921 pria dan wanita dewasa yang dilakukan melalui wawancara melalui telepon. Partisipan berusia mulai dari 25 tahun hingga 74 tahun yang difokuskan pada masalah psikologis dan emosi.

Contoh pertanyaannya seperti apakah partisipan mengalami depresi, gelisah atau sedih jika sedang stres dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi itu muncul bisa karena adu argumentasi, perselisihan, ketegangan dalam kerja, masalah keluarga hingga mengalami diskriminasi.

Partisipan juga ditanya tentang kualitas hubungan masa kecilnya dengan ayah dan ibu. Pertanyaan yang diajukan seperti bagaimana partisipan menilai hubungannya dengan ayah dan ibu selama bertahun-tahun. Berapa banyak waktu dan perhatian yang didapatkan saat partisipan sedang membutuhkannya.

Hasilnya ditemukan partisipan cenderung memiliki masa kecil yang baik dengan ibu ketimbang ayah. Hubungan dengan ibu juga jarang mengalami tekanan psikologis. Sementara hubungan dengan ayahnya hambar.

"Hasil ini memang tidak mengejutkan karena penelitian masa lalu telah menunjukkan ibu memang yang berperan dalam perawatan anak dan selalu bisa memberikan kenyamanan," kata Profesor Mallers yang telah mempresentasikan penemuannya dalam the 118th Annual Convention of the American Psychological Association di San Diego.

Ayah memang memiliki gaya yang unik dalam berinteraksi dengan anak-anaknya. Namun psikolog memandang ayah jangan terlalu cuek dengan anaknya karena dampaknya bisa pada emosi anak saat dewasa.

Irna Gustia - detikHealth

Label: , , , , , ,

Rabu, 11 Agustus 2010

Susah Cari Pasangan Bisa Memperpendek Umur Pria

img
Foto: thinkstock

Hidup di suatu wilayah dengan perbandingan pria dan wanita yang tidak seimbang bisa membuat pria stres. Persaingan tinggi dalam mendapatkan pasangan hidup bisa berujung pada menipisnya harapan untuk dapat berumur panjang.

Hal ini dialami pria ketika memasuki usia matang secara seksual. Dibandingkan pada pria yang tinggal di wilayah dengan perbandingan jenis kelamin lebih berimbang, harapan hidupnya bisa berkurang menjadi 3 bulan lebih pendek.

Untuk membuktikan hal ini, peneliti dari Harvard University melakukan pengamatan terhadap sejumlah siswa SMA di Wisconsin lulusan tahun 1957. Penelitian tersebut dilakukan secara berkelanjutan hingga 50 tahun berikutnya.

Pada tahun 2007, harapan hidup di antara mantan siswa yang masih bertahan menunjukkan adanya perbedaan sekitar 1,6 persen. Pria yang berasal dari kelas dengan perbandingan jenis kelamin merata, lebih banyak yang masih hidup dibandingkan pria dari kelas yang siswinya sedikit.

Meski penelitian ini tidak menyebutkan alasannya, namun diduga faktor sosial dan biologis ikut mempengaruhi kecenderungan tersebut. Menurut peneliti yang dikutip dari Foxnews, Rabu (11/8/2010), perjuangan keras untuk mencari pasangan bisa menyebabkan stres yang berdampak pada masalah kesehatan secara fisik.

Penelitian yang baru pertama kali mengamati hubungan antara perbandingan jenis kelamin dengan harapan hidup pada populasi manusia ini dipublikasikan dalam jurnal Demography edisi bulan Agustus.

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth

Label: , , , ,

Selasa, 10 Agustus 2010

Anak Perempuan Sekarang Sudah Puber di Usia 7-8 Tahun

img
Ilustrasi (Foto: thinkstock)

Studi terbaru menemukan anak perempuan sekarang lebih cepat payudaranya tumbuh di usia 7 atau 8 tahun ketimbang orang zaman dulu. Hal ini membawa keprihatinan mengenai masa pubertas anak yang terlalu dini.

Perdebatan tentang masalah ini sebenarnya sudah dimulai dengan sebuah penelitian yang diterbitkan pada tahun 1997 oleh tim peneliti yang dipimpin oleh Dr Marcia E. Herman-Giddens, seorang peneliti di University of North Carolina, Chapel Hill.

Dalam studi tersebut, dokter anak di seluruh negeri diminta untuk menilai kematangan seksual pada 17.077 gadis usia 3-12 tahun. Studi ini menemukan bahwa payudara atau rambut di kemaluan atau keduanya, jauh lebih sering terjadi pada 7-8 tahun.

Secara normal seharusnya anak perempuan baru mengalami menstruasi untuk pertama kali saat usia antara 12-13 tahun.

Cepatnya masa puber anak perempuan saat ini diduga karena terkait obesitas yang memainkan peran penting, karena lemak tubuh dapat menghasilkan hormon seks. Beberapa peneliti juga menduga bahwa bahan kimia lingkungan yang menyerupai efek estrogen dapat mempercepat masa pubertas.

Masalah ini menjadi perhatian karena alasan medis dan psikososial. Studi menunjukkan bahwa pubertas awal, yang diukur dengan usia pada menstruasi pertama (menarche), dapat meningkatkan risiko kanker payudara. Hal ini disebabkan karena tingkat hormon estrogen dan progesteron dapat memicu beberapa tumor yang bisa menjadi ganas.

Meskipun studi baru ini tidak memandang usia menstruasi, pertumbuhan payudara juga merupakan tanda eksposur hormon. Beberapa peneliti takut bahwa perkembangan payudara awal ini juga mungkin berarti sebuah peningkatan risiko kanker.

Selain itu, secara sosial dan emosional, sangat sulit bagi seorang gadis yang hidup dengan pikiran bocah tetapi sudah tumbuh menjadi tubuh seorang wanita. Ia juga belum siap berurusan dengan ketertarikan lawan jenis atau mengatasi perubahan emosi dan dorongan seksual dalam tubuhnya.

"Ini adalah bendera peringatan. Saya pikir orangtua harus waspada dengan hal-hal yang dapat mengekspos tubuh anak-anak kita," kata Dr Frank M. Biro, penulis pertama studi dan direktur kedokteran remaja di Cincinnati Children's Hospital Medical Center, seperti dilansir dari NYTimes, Senin (9/8/2010).

Dr Catherine Gordon, pediatrik endokrinologi dan spesialis kedokteran remaja di Children's Hospital Boston, mengatakan bahwa sejauh ini sebagian besar bukti menunjukkan bahwa baik perkembangan payudara atau umur menstruasi telah berubah terkait dengan banyaknya obesitas pada anak.
Merry Wahyuningsih - detikHealth

Label: , , ,

Senin, 09 Agustus 2010

Penyebab Anak Takut Badut

img
ilustrasi (Foto: thinkstock)

Badut adalah sosok yang lucu, menggemaskan dan menghibur. Tapi hal ini berbeda jika yang melihat badut adalah anak-anak. Sebagian besar anak kecil tidak suka atau takut dengan badut. Apa penyebabnya?

Peneliti di University of Sheffield menemukan bahwa badut secara universal tidak disukai oleh anak-anak, terutama ketika hiasan badut ini menjadi dekorasi dari rumah sakit.

Studi ini dilaporkan dalam Nursing Standard Magazine dengan melibatkan jajak pendapat dari 250 anak berusia 4-16 tahun. Dalam jajak pendapat tersebut didapatkan bahwa sebagian besar anak-anak tidak menyukai badut, bahkan beberapa anak yang lebih tua juga ada yang tidak menyukai badut.

Dikutip dari Digitaljournal.com, Senin (9/8/2010) ada banyak asumsi yang melatarbelakangi anak-anak takut dengan badut.

Salah satunya adalah sebagian besar media menggambarkan badut sebagai sosok kejahatan dalam berbagai film. Hal ini tentu saja membuat anak-anak menjadi berpikir bahwa badut adalah seseorang yang jahat, sehingga tak heran banyak yang takut dengan badut.

Meski karakter menakutkan dalam film atau televisi biasanya menggunakan topeng atau ekspresi wajah yang berlebihan, namun ini menunjukkan adanya beberapa persamaan dengan fitur badut yang dilihat oleh anak-anak.

Selain itu sebagian analis dan psikolog percaya bahwa hal yang membuat anak-anak takut dengan badut adalah lukisan atau riasan di wajah orang tersebut yang berlebihan.

Agar ketakutan ini tidak berlanjut hingga dewasa dan membuat anak menjadi Coulrophobia (fobia badut), maka orangtua bisa mulai perlahan-lahan memperkenalkan badut pada anak sebagai sosok yang lucu dan bukan menakutkan.

Tapi bukan dengan cara memaksa anak untuk mau berani dengan badut atau memaksa anak untuk berfoto dengan badut saat anak belum berani.

Buatlah anak berani dengan memberinya penjelasan bahwa badut adalah seorang manusia juga yang wajahnya diberi topeng atau riasan tertentu, orang ini tidak akan menyakiti anak-anak tapi justru akan menghibur.

Lalu tak ada salahnya untuk memberikan pujian pada anak jika ia sudah menunjukkan keberaniannya saat mau berdekatan dengan badut.
Vera Farah Bararah - detikHealth

Label: , ,

Manusia Suka Meniru Gaya Bicara Orang Lain

img
Ilustrasi (Foto: thinkstock)

Manusia cenderung ingin membentuk ikatan dengan orang lain, yang tanpa sadar sering meniru aksen, gaya, ekspresi atau pikiran orang lain. Manusia juga meniru pola bicara seperti nada, kecepatan dan waktu bicara dari orang lain.

Yang paling aneh adalah ketika meniru aksen orang lain. Ketika berinteraksi dengan orang lain yang memiliki aksen berbeda, tanpa sadar sering menirukan aksen orang tersebut.

Hal ini terungkap melalui penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan Amerika Serikat. Penelitian tersebut menemukan bahwa otak manusia sering meniru pola bicara (akses atau logat) orang lain, meski orang tersebut asing atau belum dikenalnya.

Tanpa sadar manusia sering meniru aksen orang lain meski aksen tersebut tidak bisa didengar dengan jelas atau bahkan memalukan.

"Manusia adalah pengekor yang hebat," ujar pemimpin penelitian, Prof Lawrence Rosenblum, psikolog dari University of California, Riverside, seperti dilansir dari Telegraph, Senin (9/8/2010).

"Kadang kita bahkan meniru aksen dari orang asing yang kita ajak bicara, dengan mengarah ke konsekuensi memalukan," lanjut Prof Rosenblum.

Menurut hasil penelitian yang telah dipublikasikan pada jurnal Attention, Perception and Psychophysics ini, meniru aksen orang lain tanpa sadar berasal dari dorongan otak untuk berempati dan afiliasi.

Sebenarnya seseorang tidak selalu mengerti apa yang orang lain katakan, tapi orang tersebut akan cenderung membaca gerak bibir dan menirukan aksen orang lain.

Penelitian ini menyelidiki cara pembacaan gerak bibir yang dilakukan beberapa partisipan, yang kesemuanya memiliki pendengaran yang baik tapi tidak memiliki pengalaman untuk membaca gerak bibir.

Partisipan diminta melihat beberapa gerak bibir orang yang mengucapkan 80 kata-kata pilihan sederhana tanpa suara. Kemudian partisipan diminta untuk mengulang dan mengucapkan kata-kata tersebut.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa pertisipan lebih mungkin mengulang kata dengan aksen yang sama digunakan oleh pembicara, meski partisipan tersebut tidak mendengar langsung aksen bicara dan hanya membaca dari gerak bibir. Tapi menurut Prof Rosenblum, hal ini mungkin saja terjadi.

"Mendengar langsung ataupun hanya membaca garak bibir, orang akan cenderung meniru aksen lawan bicaranya. Tapi kondisi yang dilakukan tanpa sadar ini justru dapat berfungsi sebagai perekat sosial, yang membantu kita berempati dengan orang lain," tambah Prof Rosenblum.

Merry Wahyuningsih - detikHealth

Label: ,

Minggu, 08 Agustus 2010

Alasan Pria Tak Suka Disetiri Pasangan

img
Dok. : Thinkstock

Tak jarang Anda merasakan suami atau pasangan merasa khawatir saat Anda yang mengendarai mobil. Padahal, pengalaman menyetir Anda tak bisa dibilang sedikit.

Kekhawatiran dari pasangan memang terasa menyebalkan. Namun menurut ahli, ada alasan yang kuat mengapa para pria bertingkah seperti itu.

Sebuah penelitian melibatkan 3.000 pria. Mereka diberi pertanyaan sekitar cara menyetir wanita atau pasangannya.

Sebanyak 10 persen pria menganggap para wanita seringkali tidak fokus saat menyetir. Seringkali mereka bisa mengerjakan hal lain saat menyetir, sehingga membuat para pria khawatir.

Alasan lain, pria menganggap para wanita sering kali tak bisa menjaga jarak dengan mobil yang ada di depannya. Terkadang, karena terlalu panik, para wanita sering mengerem mendadak.

Yang membuat para pria paling khawatir, seringkali, para wanita tak mengerti mengenai mesin mobil sama sekali. Sehingga jika terjadi sesuatu di jalan, para wanita tak tahu cara untuk mengatasinya.

Kesimpulan dari penelitian itu, para pria beranggapan bahwa lebih baik mereka yang menyetir dan membiarkan kekasih atau istri tercintanya duduk di samping kursi supir.

Amelia Ayu Kinanti - wolipop

Label: , , , ,